Senin, 30 Mei 2011

Pesona Bawah Laut Gunung Api Memikat Para Fotografer

Sejumlah fotografer yang mengikuti "Banda Underwater Photo Rally Competition 2010" terpikat pesona bawah laut Gunung Api Banda sehingga betah mengabadikan foto di lokasi penyelaman "Lava Flow", Senin (26/4).
"Lava Flow" Gunung Api Banda merupakan salah satu dari empat lokasi penyelaman yang dijelajahi para fotografer sepanjang Senin (26/4). Lokasi penyelaman lainnya yaitu dua lokasi yang berbeda di Pulau Hatta serta "extra dive" di lokasi Pelabuhan Banda Naira atau yang lebih dikenal dengan "Mandarin City" karena merupakan karena merupakan habitat ikan mandarin (Synchiropus splendidus).
Gunung Api adalah pulau gunung berapi kecil terletak tepat di sebuah selat kecil, sebelah barat Banda Neira. Letusan terakhir terjadi pada tahun 1988, dan lava cair panas mengalir sungai bawah lereng utara-timur dan utara ke Laut Banda, menghancurkan sistem terumbu karang yang ada.
Setelah beberapa saat lahar dingin dan terjadilah regenerasi terumbu karang di Gunung Api. Namun tingkat pertumbuhan terumbu karang tersebut diluar prediksi ahli biologi laut di dunia karena ternyata pertumbuhan terumbu karang baru terjadi dibawah waktu 19 tahun sebagaimana teori para ahli selama ini.
Para fotografer pun disuguhi formasi yang kontras antara terumbu karang yang tidak terkena lava dengan terumbu baru.
Sesaat setelah turun dari permukaan Laut Banda, para fotografer dikejutkan oleh pemandangan yang mengagumkan yang terdiri dari karang meja yang berjenjang, karang jari berkutil, karang bottlebrush dan spesies karang baru yang oleh UNESCO diberi nama acropora des alwii. Des Alwi merupakan orang pertama yang menemukan terumbu karang tersebut saat melakukan penyelaman bersama salah satu ahli dari UNESCO. Selanjutnya pada kedalaman 20 hingga 35 meter, para fotografer menjumpai terumbu karang menyerupai daun kubis.
Sebelumnya, lokasi penyelaman yang dijelajahi para fotografer adalah Pulau Hatta. Di pulau yang berjarak 25 km dari Pulau Banda Naira tersebut terdapat skaru atoll dan gugusan terumbu karang di bawah permukaan air laut dapat ditemukan beberapa ratus meter dari sebelah selatan Pulau Hatta.
Mantan Pangdam XVI/Pattimura Mayjen TNI M Noer Muis selaku pemrakarsa kompetisi kepada Siwalima di Banda Naira, tadi malam menjelaskan hari kedua penyelaman hanya disasarkan pada lokasi-lokasi untuk pengambilan foto kategori "wide angle".
"Setelah sehari sebelumnya kita melakukan pengambilan foto kategori "macro" maka hari kedua disasarkan untuk pengambilan foto kategori wide angle," jelasnya.
Muis yang saat ini menjadi Pangdam I/Bukit Barisan juga mengatakan, para fotografer melakukan penyelaman di perairan Pulau Hatta pada kedalam 40 meter. "Sebagian besar fotografer baru pertama kali menyelam di Kepulauan Banda sehingga mereka sangat terpikat dengan pesona bawah laut disini apalagi terumbu karang di Pulau Hatta sangat subur disertai air yang jernih dan ada juga gugusan karang yang mirip goa," katanya.
Pertumbuhan karang yang subur juga diakui Muis, dijumpai para fotografer di lokasi penyelaman "lava flow" Gunung Api Banda. "Para fotografer juga terpikat dengan konfigurasi gugusan terumbu karang yang terbentuk setelah meletusnya gunung tersebut pada tahun 1988. Di usia yang sangat muda ternyata telah terbentuk gugusan terumbu karang yang sangat menarik," ungkapnya.
Kendati demikian, Muis mengaku sasaran pengambilan foto tidak semata-mata pada gugusan terumbu karang acropora des alwii.
Ditambahkan, penyelenggara kompetisi foto juga menabah satu sesi penyelaman di sore hingga malam hari di lokasi Pelabuhan Banda Naira atau yang lebih dikenal dengan "Mandarin City" karena sebagian fotografer masih penasaran dengan ikan mandarin (Synchiropus splendidus).
"Sehari sebelumnya ada fotografer yang tidak menjumpai ikan mandarin di lokasi tersebut sehingga mereka penasaran dan akhirnya kita memberikan sesi ekstra penyelaman," katanya.
Sesuai jadwal, sepanjang Selasa (27/4) sasaran penyelaman akan dilakukan di Pulau Ay dan Pulau Run. Nantinya juga akan dilakukan bhakti sosial di Pulau Ay.
Disisi lain, Muis juga mengharapkan masyarakat di Provinsi Maluku untuk menjaga potensi lautnya. "Jangan kotori laut kita ini dengan sampah. Selama bertugas di Maluku saya menilai orang Maluku sebenarnya menyatu dengan alam sehingga harus juga konsisten menjaga kebersihan laut," harapnya.
Muis yang telah berkeliling melakukan penyelaman di berbagai daerah di Indonesia mengakui lokasi-lokasi penyelaman di Maluku memiliki ciri khas tersendiri. "Disini kita dapat menjumpai beraneka biota laut dan gugusan terumbu karang yang sangat indah," ungkap Muis yang sejak menjadi Pangdam I/Bukit Barisan sudah melakukan penyelaman di beberapa pulau di Provinsi Sumatera Utara. (S-12)Siwalima

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

0 komentar:

Posting Komentar