Senin, 30 Mei 2011

PERMASALAHAN REPRODUKSI REMAJA DAN ALTERNATIF JALAN KELUARNYA

PERMASALAHAN REPRODUKSI REMAJA DAN ALTERNATIF JALAN KELUARNYA

Dengan kemajuan pembangunan, masalah kependudukan di Indonesia sekarang tidak lagi sepenuhnya terpusat pada jumlah penduduk melainkan pada kualitas penduduknya. Remaja merupakan aset bangsa untuk terciptanya generasi mendatang yang baik. Perubahan alamiah dalam diri remaja sering berdampak pada permasalahan remaja yang cukup serius. Tulisan ini khusus membahas tentang masalah perilaku reproduksi remaja dan pemikiran untuk mencari jalan keluarnya.
Perubahan di masa remaja
Membahas masalah perilaku reproduksi remaja tidak dapat dilepaskan dari pertumbuhan dan perkembangan yang sedang terjadi pada diri mereka. Terdapat tiga area perubahan vital yang terjadi pada masa remaja, yaitu perubahan dalam pertumbuhan fisik menyangkut pertumbuhan dan kematangan organ reproduksi, perubahan bersosialisasi dan perubahan kematangan kepribadian.
Perubahan Fisiologis
Perkembangbiakan atau reproduksi pada mamalia ditandai oleh beberapa tahapan spesifik, dimulai dengan tahap immaturitas atau masa bayi dan anak-anak, tahap pubertas yaitu masa sekolah dan pra-remaja, tahap maturitas atau masa remaja, dewasa muda dan dewasa tahap menopause atau masa baya, tahap ketuaan dan berakhir dengan kematian.
Pada wanita, mulai berfungsi system reproduksi ditandai dengan datangnya haid pertama yang lazim disebut “menarche” umumnya terjadi di usia 10-14 tahun. Tanda pertama kepriaan adalah terjadinya ereksi, orgasmus dan eyakulasi. Fungsi reproduksi pria dapat bertahan sampai tua (70 bahkan 80 tahun) namun hanya sampai usia 45-50 tahun pada wanita.
Perineum adalah daerah pada tulang kemaluan dengan anus. Pada perineum terdapat terdapat organ genitalia eksternal wanita, terdiri dari: mons veneris, clitoris, labia mayora, labia minoravestibula, dan clitoris. Organ reproduksi wanita yang terletak di dalam panggul adalah rahim atau uterus, vagina, saluran fallopi dan ovarium (indung sel telur)
Pada pria, organ genitalia eksternal terdiri dari penis, dan scrotum. Organ reproduksi pria yang terletak di dalam panggul adalah vas deferens, vasikula seminalis, dan kelenjar prostate. Sementara cairan sperma dikeluarkan oleh kelenjar prostate ini, berbentuk kelenjar yang melingkari uretha tepat di bawah kandung kemih.
Organ utama dari reproduksi mamalia disebut gonad, yaitu ovarium pada wanita dan testis pada pria. Ovarium membentuk ovum (telur) yang siap dibuahi oleh hormon estrogen serta progesterone, yang diperlukan untuk mengembangkan dan memelihara sifat-sifat kewanitaan, termasuk mempersiapkan kehamilan. Testes yang terletak di dalam scrotum pria, memproduksi dan menyimpan sperma dan hormone androgen (terutama hormone testosterone) yang berfungsi mengembangkan dan memelihara sifat-sifat kepriaan.
Ciri seksual sekunder baik pada pria maupun pada wanita belum muncul sampai dengan masa pubertas yaitu pada umur 10-14 tahun. Secara fisik cirri seksual sekunder tampak nyata pada masa remaja, di mana pada pria terjadi perubahan suara, tumbuh kumis jenggot tumbuh dan bentuknya rambut pubis timbulnya jakun dan semakin melebarnya bentuk otot-otot bahu dan dada. Pada wanita tumbuh dan terbentuknya rambut pubis, bulu ketiak dan pembesaran payudara.
Pertumbuhan system reproduksi pada pria terjadi lima tahap yaitu tahap infatil, tahapan pembesaran scrotum, penyempurnaan bentuk serta perubahan warna scrotum dan diakhiri dengan tahapan pematangan. Tahap kedua pada umumnya tercapai pada umur 12 tahun sedang tahap kelima tercapai sekitar 17 tahun.
Proses Sosialisasi
Manusia adalah mahluk hidup yang terikat dengan manusia sekitarnya. Perkembangan proses bersosialisasi pada masa remaja dan pemuda di tandai dengan mulai terjadinya hubungan antar jenis. Mereka yang pada tahap pubertas cenderung lebih berkawan dengan lawan jenis, pada masa ini mulai menaruh perhatian pada lawan jenis. Pengaruh hormone dan pertumbuhan bentuk fisik yang mulai memberi ciri wanita dan pria yang mulai menyebabkan para remaja mulai mengalihkan perhatiannya kepada lawan jenis.
Beberapa penelitian mengenai penelitian heteroseksual remaja kota mengungkapkan bahwa remaja kota masa kini cenderung mempunyai system nilai yang lebih longgar dalam interkasi heteroseksualnya dibandingkan dengan beberapa tahun lalu.
Perkembangan proses heteroseksual remaja merupakan bagian penting dari perkembangan hubungan gejalanya secara menurun. Proses ini merupakan hasil komples dari interaksi biologis , psikologis, dan norma sosial yang berlaku.
Perkembangan kepribadian
Pada masa remaja, labilnya emosi erat kaitannya dengan hormon dalam tubuh. Sering terjadi letusan emosi dalam bentuk amarah, sensitif, bahkan perbuatan nekad. Dennis dan Hasol menyebutnya sebagai “time of upheavel and turbulence “.
Ketidak stabilan emosi menyebabkan mereka mempunyai rasa ingin tahu dan dorongan untuk mencari tahu. Pertumbuhan kemampuan intelektualisme pada para remaja membuat mereka cenderung bersikap kritis, tersalur melalui perbuatan-perbuatan yang bersifat eksperimen dan eksploratif. Tindakan dan sikap semacam ini bila dibimbing dan diarahkan dengan baik tentu berakibat konstruktif dan berguna. Masalahnya adalah sering remaja jatuh ke dalam “peer group” atau sekelompok orang yang bukannya mengarahkan namun cenderung memanfaatkan potensi tersebut untuk perbuatan yang negatif sehingga mereka terjerumus ke dalam kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat, menggangu, membahayakan bahkan destruktif.
Pengaruh-pengaruh luar dan perilaku reproduksi remaja.
Dalam GBHN tahun 1943 telah digariskan bahwa sasaran kebijaksanaan pengembangan kualitas penduduk adalah terwujudnya kualitas penduduk sebagai sumber daya insani guna pembangunan yang berkelanjutan.
Meningkat dan makin eratnya hubungan antar bangsa di dunia ini merupakan salah satu faktor positif dari globalisasi, dan turut mendorong pembangunan bangsa. Salah satu dampak nyata pembangunan di Indonesia adalah meningkatnya status gizi dan makin meratanya pelayanan kesehatan di Indonesia. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa terdapat korelasi positif antara peningkatan status gizi dengan membaiknya pertumbuhan dan kematangan fungsi sistem reproduksi manusia. Dengan gizi yang lebih baik, menarche terjadi pada usia yang lebih muda dan menopause terjadi pada usia yang lebih tua. Di masa reproduksi seseorang akan menjadi lebih panjang. Hormon seksual juga bekerja lebih lama dan proses penuaanpun diperlambat. Dalam 10 tahun ini usia wanita dan pria di Indonesia meningkat jauh dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya.
Akibat lain adalah terjadinya suatu transisi demografi menimbulkan perubahan/ memberikan gambaran khas dalam struktur penduduk di mana transisi sementara adalah adanya kelompok usia remaja/pemuda dalam persentase besar dan diikuti dengan perubahan penuaan penduduk yang menetap. Menurut Proyeksi Penduduk Indonesia 10) jumlah penduduk di bawah usia 15 tahun akan mengalami penurunan sekitar 2 % selama 5 tahun (1 993 – 1 998) ini, atau sekitar 0,4 % setahunnya. Sebaliknya, jumlah penduduk usia produktif, yaitu penduduk usia 15 – 60 tahun justru mengalami kenaikan sebesar 12,6 % selama 5 tahun ini atau sekitar 2,5 % setahunnya.
Penundaan usia kawin di kalangan remaja dan pemudi merupakan salah satu perubahan yang signifikan di Asia dalam abad ke 20 ini., Di Korea misalnya, pada tahun 1930, hanya 1 dari 3 wanita usia 1 5 – 1 9 tahun belum menikah, namun di tahun 1980, ketiganya belum menikah. Data menunjukkan bahwa perubahan usia kawin ini lebih menonjol terjadi pada kaum wanita. Di Bangladesh dan Thailand, perubahan rasio pria dan wanita remaja yang belum menikah menurun drastis sebagai berikut: untuk Bangladesh, rasio 12,7 di tahun 1950 menjadi 2,17 di tahun 1990. Di Thailand, rasio 1,81 di tahun 1950 menjadi 1.16 di tahun 1990.
Remaja dan pemuda belum menikah menjadi katagori sosial yang sangat penting. Penundaan usia kawin diasumsikan akan berakibat pada penundaan kehamilan, yang merupakan potensi untuk mengurangi laju pertumbuhan penduduk. Seorang pakar kebidanan menyatakan bahwa walaupun ibu dalam kondisi sehat. 3 % dari ibu-ibu yang baru pertama kali hamil pada usia di atas 35 tahun melahirkan bayi dengan kelainan yang disebut ” Down Syndrome” yaitu kelainan yang ditandai dengan rendahnya kecerdasan anak dan adanya pertumbuhan gangguan fisik.
Dalam dua decade terakhir ini, muncul penyakit yang paling ditakuti yaitu AIDS sejalan dengan makin dekatnya hubungan antar Negara dan makin berkembangnya sengit pariwisata AIDS merambah terus keberbagai negara. Selain ancaman AIDS dengan aktifnya perilaku seksual remaja, merekapun tidak luput dari resiko penyakit-penyakit yang ditularkan memalui hubungan seksual seperti gonnorhoea, syphilis, veruca vaginalis, dan sebagainya.
Menarik sekali untuk diketahui justru dengan adanya AIDS, persentase remaja Amerika Serikat yang melakukan hubungan seksual pranikah mengalami penurunan, dari 54% pada tahun 1990 menjadi 33% pada tahun 1993. Survei ini juga memperlihatkan 92% remaja AS mengaku waspada terhadap virus AIDS, serta 80% dari yang pernah melakukan hubungan seksual pranikah mengaku selalu memakai kondom.
Media masa dan media cetak seringkali memegang peranan yang tidak kecil dalam hal khayalan seksual remaja dengan perlu meyadari bahwa informasi selain memperluas wawasan dan pengetahuan juga membawa nilai-nilai dari Negara asal informasi tersebut. Adanya kecenderungan pada daya tarik fisik dan seksual dalam berbagai media periklanan, membuat remaja makin sulit mengontrol dorongan seksualnya.
Kehamilan pranikah di usia muda merupakan salah satu dampak negatif dari globalisasi di mana pergaulan bebas, longgarnya norma-norma sosial serta derasnya arus informasi menjadi beberapa faktor penyebab.
Kehamilan merupakan salah satu trauma psikis, terutama bila dialami pertama kali oleh wanita yang masih belum stabil. Implikasi kehamilan muda usia dapat bersifat medik dan sosial. Beberapa penelitian secara signifikan menyatakan bahwa Berat Badan Lahir Rendah dan kematian perinatal cenderung lebih banyak dialami oleh bayi-bayi yang dilahirkan oleh ibu usia muda.
Implikasi sosial yang sering terjadi adalah menarik diri dari sekolah, bahkan menarik diri dari lingkungan keluarga, dengan cara pindah-pindah ke kota lain yang justru menghadapkanya pada permasalahan baru.
Untuk konteks Indonesia, besar dan dampak perubahan-perubahan akibat globalisasi kiranya perlu dibedakan menurut ukuran pedesaan dan perkotaan, terlebih-lebih dalam kaitannya membina keluarga. Seleksi pengaruh terasa lebih besar di keluarga-keluarga pedesaan, yang memang terjadi karena terbatasnya sentuhan langsung moderanisasi dibandingkan dengan di kota.
Namun perlu difikirkan, bahwa lambat atau cepat industrialisasi akan merambah desa; dan imbas moderenisasi kota sampai kepedesaan sebab padatnya kota akan menyebabkan masyarakat kota tinggal di pedesaan.
Alternatif Jalan keluarnya.
Empowering keluarga untuk meningkatkan ketahanan non fisik menghadapi arus globalisasi dengan cara memperkuat sistem agama, nilai dan norma di dalam keluarga merupakan alternatif utama. Dalam hal ini target sasaran pertama adalah para orang tua, diberi informasi dan pengertian akan pentingnya dan sekaligus bahaya-bahaya yang mengancam kehidupan para remaja, sehingga mereka dapat turut berpartisipasi sebagai change agent, Target sasaran kedua adalah remaja, dalam peranannya sebagai anggota keluarga.
Selain keluarga, reference group lain dari para remaja adalah lingkungan kelompok sebaya (peer group) dan lingkungan sekolah. Tidak jarang, norma dan nilai sosial yang diperoleh remaja dari ketiga lingkungan tersebut berbeda, bahkan berbenturan. Salah satu cara. memperkecil benturan tersebut adalah dengan mengusahakan kebijaksaan pemukiman terpadu, di mana suatu wilayah pemukiman diusahakan homogen secara sosial ekonomi, dilengkapi dengan sarana dan fasilitas pendidikan serta rekreasi yang sekaligus dapat dimanfaatkan oleh para remaja yang bermukim di sana.
Komitmen politis dalam bentuk Landasan Hukum Pengembangan Keluarga Sejahtera Indonesia: UU 1992 no1993, hendaknya diteruskan dengan berbagai kegiatan nyata; salah satunya adalah lebih meningkatkan kerja sama pemerintah dengan masyarakat cq. lembaga-lembaga sosial dan keluarga dalam pembinaan remaja.
Dari pihak keluarga, ukuran kecintaan terhadap generasi masa depan bangsa dapat dilihat secara tidak langsung dari kecintaan orang tua terhadap generasi penerus, yaitu keinginan kuat agar generasi bangsa berikutnya lebih maju dari generasi sebelumnya. Karenanya, keluarga bertugas mempertebal iman remaja dan pemuda dengan meningkatkan pemahaman nilai-nilai agama, norma, budi pekerti dan sopan santun. Dari pihak pemerintaii diharapkan adanya kegiatan berwawasan nasional misalnya memperketat sensor arus informasi dan budaya asing, menunjang pembentukan sarana bagi pengembangan remaja dan lain-lain.
Kehamilan pra nikah pada para remaja, terutama di kota besar, cenderung makin merupakan ancaman. Kondisi ini merupakan resultants dari faktor-faktor biologis, psikologis dan sosial. Upaya pencegahannya perlu dilakukan secara multi dan interdisiplin dengan mempertimbangkan ketiga faktor tersebut.
Tulisan ini ingin memperkuat usul dan saran-saran yang sudah sering dibicarakan tentang pentingnya pemberian informasi reproduksi sehat kepada remaja secara bertanggung jawab yang disepakati oleh berbagai pihak (kalangan agama, pendidik, orang tua). Survei Litbangkes. Depkes menunjukkan bahwa 66,4% siswa SLTA dan Mahasiswa PT. yang diambil sebagai sampel penelitian di DKI dan Yogyakarta mengusulkan perlunya pendidikan seks secara resmi dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah. Sebanyak 42,8% responden mengatakan perlu memasukkannya sebab mereka ingin mendapat pengetahuan seks dari sumber berwenang dan bertanggung jawab. Pelaksanaanya dapat dilakukan melalui institusi formal dalam bentuk pengajaran yang sesuai dengan budaya Indonesia. Substansinya meliputi reproduksi sehat, penjelasan tentang KB, dan penyakit-penyakit yang berisiko seperti penyakit kelamin dan AIDS. Bila kesepakatan telah tercapai, penyuluhan terhadap pendidik, orang tua dan pihak lain yang terlibat menjadi kenyataan awal sebelum dilakukannya penyuluhan kepada target sasaran remaja.
Perlu diingat, bahwa di Indonesia, partisipasi remaja putri pada pendidikan formal SD ke atas, terutama di pedesaan, masih rendah. Karena itu perlu pula difikirkan cara lain, misalnya penyuluhan informal tentang reproduksi sehat khususnya bagi remaja putri putus atau tidak melanjutkan sekolah lagi.
Berikut adalah sebuah contoh tujuan yang ditetapkan untuk menangani masalah pendidikan dan penyuluhan reproduksi sehat Meningkatkan paling sedikit 85 % proporsi kelompok pra-remaja dan remaja usia 10-18 tahun yang pernah membicarakan dengan orang tua mereka tentang masalah seksualitas, termasuk nilai dan norma sosial yang berhubungan dengan seksualitas, dan pernah menerima informasi tentang seksualitas dari sumber lain di luar rumah seperti : kelompok sebaya atau peer group, dari sekolah atau dari penyuluhan agama.
Sebuah survei tentang aktivitas seksual remaja di AS menemukan bahwa dari 72 % remaja yang mengatakan pernah mendapat pendidikan seks di sekolah, 91 % mendukung pelaksanaan program tersebut.
Senantiasa mencari terobosan baru dalam upaya mengembangkan kegiatan-kegiatan yang mampu memsublimasikan gejolak seksualitas remaja ke arah perbuatan-perbuatan yang positif harus terus di cari. Kegiatan sublimasi ini di tunjukkan untuk mengimbangi dorongan seksual ilmiah yang sedang besar, sekaligus memanfaatkan seoptimal mungkin potensi internal. Sudah saatnya mencari keluarga-keluarga atau remaja yang dapat dijadikan role model untuk dijadikan contoh dan panutan.
Tidak dapat dipungkiri, wanita sering dijadikan objek yang sangat merugikan harkat wanita. Ditambah dengan masih lebih kecilnya kesempatan menikmati pendidikan dibandingkan pria, menyebabkan wanita berada dalam posisi yang sulit dan lemah. Aspek gender masih penting pada penanganan reproduksi masalah remaja.
Diatas telah diuraikan bahwa masalah remaja tidak luput dari gangguan organic dan gangguan psikologis, terutama yang berhubungan dengan pertumbuhan dan kematangan fungsi reproduksi, proses bersosialisasi serta pengembangan dan kematangan kepribadian. Karena itu perlu adanya sarana pelayanan kesehatan khusus remaja yang menagani masalah organic dan psikologi reproduksi, pengaturan gizi remaja agar mencapai tumbuh kembang reproduksi yang optimal dan sarana konseling di mana remaja bebas mengemukakan keluhan dan gangguan kesehatan/psikis yang dialami.
Kondisi yang berperan dalam intervensi
Di dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan intervensi perlu diingat beberapa kondisi di bawah ini:
Karena kompleksnya permasalahan, hampir selalu remaja diperlakukan sebagai target sasaran tahu objek. Padahal remaja mempunyai banyak potensi yang berguna yang dapat diikutsertakan dalam pembangunan. Dilihat dalam kodratnyapun setiap remaja memiliki kemampuan untuk bereproduksi, sehingga dengan demikian juga mempunyai tanggung jawab untuk menghasilkan generasi penerus yang bekualitas. Sebaiknya, bila remaja dianggap sebagai subjek ia akan terlihat penuh dalam turut memikul tanggung jawab pembangunan, sehat dan produktif , memiliki iman, ilmu dan kepribadian, berprestasi dan mempunyai harga diri.
Konteks perbedaan suasana pedesaan dan perkotaan sampai saat ini memang masih “valid” untuk dipakai sebagai salah satu factor di dalam membina reproduksi sehat remaja. Imbalan dan pengaruh yang dating dari luar mungkin sama, Tetapi kadar penerimaan atau penolakan terhadap pengaruh tersebut berbeda dipedesaan dan perkotaan.
Intervensi akan lebih berhasil bila dilakukan melalui upaya menghilangkan atau memperkecil factor penyebab. Sebaliknya bila interfensi yang hanya dilakukan secara dangkal dengan target menghilangkan atau memperkecil gejala yang timbul, cenderung untuk memberi hasil sementara dan tidak memuaskan.
PENUTUP
Keluarga merupakan suatu institusi informal yang sifatnya “life-long learning center”. la mempunyai fungsi dan peranan yang sangat penting dalam membangun landasan moral bangsa. Kekukuhan institusi keluarga merupakan salah satu persyaratan utama untuk menghasilkan generasi penerus yang berkualitas.
Aristoteles mengakui pentingnya keluarga sebagai mediator yang efektif untuk mengantar manusia ke gerbang kehidupan bermasyarakat yang kompleks. Menurutnya, binatang dapat “survive” dengan menggunakan nalurinya, sedangkan manusia memerlukan institusi untuk membentuk kematangan, intelektualisme dan kepribadianya.
Di negara-negara Timur, khususnya di Indonesia, reproduksi manusia masih erat kaitannya dengan norma dan tata nilai bangsa; karenanya kewaspadaan selalu diperlukan didalam menghadapi pengaruh luar yang dapat mengancam hubungan reproduksi dengan norma sosial. Sebaliknya, karena reproduksi erat hubungannya dengan tata nilai di masyarakat, menjadikan substinsi dan penyebarluasan informasi tentang reproduksi lebih sulit dikembangkan dibandingkan dengan substansi lain. Perlu kesepakatan berbagai pihak (pemuka agama-orang tua-pendidik – sosiolog tenaga medis – psikolog – perwakilan remaja) untuk menemukan substansi reproduksi yang paling tepat untuk diinformasikan secara luas kepada para remaja.
Bagaimanapun, peningkatan Meridian formal baik untuk remaja pria maupun wanita masih merupakan syarat utama yang sangat diperlukan. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa dengan makin meningkatnya jenjang pendidikan formal seseorang, makin meningkat pula pengetahuan serta sikapnya dalam berperilaku sehat

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

penyakit LUPUS

LUPUS
   
                     
     ruam pada wajah                        anjing lupus                                ruam  pada kulit


  Tubuh memiliki kekebalan untuk    menyerang   penyakit dan menjaga tetap 
  sehat. Namun, apa jadinya jika kekebalan   tubuh justru    menyerang  organ 
  tubuh yang  sehat. Penyakit Lupus diduga berkaitan dengan sistem imunologi 
  yang berlebih.
  Penyakit ini tergolong misterius. Para dokter kadang bingung mendiagnosis
  penyakit ini. Namanya sedikit unik, LUPUS.

  Lupus  dalam bahasa Latin    berarti "anjing hutan". Istilah ini    mulai dikenal 
  sekitar     satu abad lalu. Awalnya,   penderita penyakit ini dikira mempunyai 
  kelainan kulit,   berupa kemerahan di sekitar hidung dan pipi . 
  Bercak-bercak merah di bagian wajah dan lengan, panas dan rasa lelah 
  berkepanjangan , rambutnya rontok, persendian  kerap bengkak dan timbul 
  sariawan.    Penyakit   ini tidak hanya     menyerang kulit,    tetapi juga dapat 
  menyerang hampir seluruh organ yang ada di dalam tubuh.

 Gejala-gejala penyakit dikenal    sebagai   Lupus Eritomatosus Sistemik  
  (LES) alias Lupus. Eritomatosus  artinya kemerahan. sedangkan sistemik
  bermakna menyebar luas keberbagai   organ tubuh. Istilahnya disebut   LES
  atau Lupus.  

  Masih awam

  Jumlah penderita Lupus ini tidak terlalu banyak. Menurut data pustaka, di
  Amerika Serikat ditemukan 14,6  sampai 50,8 per 100.000. Di Indonesia 
  bisa   dijumpai sekitar 50.000 penderitanya.

  Sedangkan    di   RS Ciptomangunkusumo Jakarta,    dari 71 kasus yang 
  ditangani  sejak awal 1991 sampai akhir 1996 , 1 dari 23 penderitanya 
  adalah   laki-laki.
  Penyakit Lupus masih sangat awam bagi masyarakat.

  Setelah diteliti penyebab Lupus karena faktor keturunan dan lingkungan.
  Penyakit ini justru diderita wanita usia produktif sampai usia 50 tahun.
  Namun   begitu, ada juga pria  yang mengalaminya. Ahli menduga penyakit
  ini   berhubungan dengan hormon estrogen.

  Karena Lupus menyerang wanita subur, kerap menimbulkan berbagai aspek
  kesehatan.    Misalnya hubungan  dengan    kehamilan yang menyebabkan 
  abortus,   gangguan perkembangan janin atau pun bayi meninggal  saat lahir.

  Namun, hal ini bisa saja terjadi sebaliknya. Artinya, justru kehamilan bisa 
  memperburuk gejala Lupus. Sering dijumpai gejala Lupus muncul sewaktu 
  hamil atau setelah melahirkan.

  Otoimun  

  Lupus merupakan penyakit yang menyerang perubahan  sistem kekebalan
  perorangan, yang sampai kini belum diketahui penyebabnya. Penyakit ini 
  muncul akibat kelainan fungsi sistem kekebalan tubuh.

  Dalam tubuh seseorang terdapat antibodi yang berfungsi menyerang sumber
  penyakit yang akan masuk dalam tubuh. Uniknya, penyakit Lupus ini antibodi
  yang terbentuk dalam tubuh muncul berlebihan.
  Hasilnya, antibodi justru menyerang sel-sel jaringan organ tubuh yang sehat.
  Kelainan ini disebut autoimunitas .

  Antibodi yang berlebihan ini, bisa masuk ke seluruh jaringan dengan dua 
  cara  yaitu :.
  Pertama, antibodi aneh ini bisa   langsung menyerang   jaringan  sel tubuh, 
  seperti   pada sel-sel darah merah yang menyebabkan  selnya akan hancur. 
  Inilah yang  mengakibatkan  penderitanya kekurangan sel darah merah atau 
  anemia.

   Kedua, antibodi bisa bergabung dengan antigen (zat perangsang pemben
  tukan  antibodi), membentuk ikatan yang disebut kompleks imun.Gabungan 
  antibodi  dan antigen mengalir bersama darah, sampai tersangkut di pem
  buluh  darah   kapiler akan menimbulkan peradangan.

  Dalam keadaan normal, kompleks ini akan dibatasi oleh sel-sel radang 
  (fagosit)   Tetapi, dalam keadaan abnormal,  kompleks ini tidak dapat 
  dibatasi dengan   baik. Malah sel-sel radang tadi bertambah banyak sambil 
  mengeluarkan  enzim, yang menimbulkan peradangan di sekitar kompleks.

  Hasilnya, proses peradangan akan berkepanjangan dan akan merusak 
  organ  tubuh dan mengganggu fungsinya. Selanjutnya, hal ini akan terlihat 
  sebagai  gejala penyakit. Kalau hal ini terjadi, maka dalam jangka panjang 
  fungsi organ  tubuh akan terganggu.

  Umumnya  penderita   Lupus   mengalami gejala seperti.  kulit yang mudah 
  gosong akibat   sinar matahari serta   timbulnya   gangguan   pencernaan.
  Gejala  umumnya  penderita   sering merasa lemah,  kelelahan  yang
  berlebihan, demam dan pegal-pegal.   Gejala ini terutama didapatkan pada  
  masa aktif, sedangkan pada masa remisi (nonaktif) menghilang.

  Pada kulit, akan muncul ruam merah yang membentang di kedua pipi, mirip 
  kupu-kupu. Kadang disebut  (butterfly rash). Namun ruam merah menyerupai 
  cakram bisa muncul di kulit seluruh tubuh, menonjol dan kadang-kadang 
  bersisik.

  Melihat banyaknya gejala penyakit ini, maka wanita yang sudah terserang 
  dua atau lebih gejala saja, harus dicurigai mengidap  Lupus.
  Untuk sembuh total dari penyakit ini, tampaknya sulit. Dokter lebih berfokus
  pada pengobatan yang sifatnya sementara.Lebih difokuskan untuk mencegah
  meluasnya penyakit dan tidak menyerang organ vital tubuh.



Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Penyakit Orang Miskin

Penyakit Orang Miskin

“Kaum miskin itu menjadi miskin karena ruang kapabilitas yang kecil. Mereka menjadi miskin karena tidak bisa melakukan sesuatu dan bukan karena tidak memiliki sesuatu”
[Amarthya Sen, peraih Nobel Ekonomi 1998)

Anda tahu apa perbedaan orang kaya dan orang miskin? Bukan tampang, bukan jumlah uang, dan bukan seberapa sering ia pergi keluar negeri. Konon, perbedaan utama yang signifikan antara orang kaya dan miskin hanya ada pada satu hal: kemampuan mengoptimalkan asset.
Saya mendapatkan pelajaran ini sejak membaca Rich Dad Poor Dad karya Robert T. Kiyosaki ketika masih kelas 1 SMA. Saat itu, ada pelajaran pertama yang sangat penting: bagaimana membedakan asset dan liabilitas (kewajiban).
Asset vs Liabilitas
Asset dalam suatu neraca laporan keuangan ada disisi kiri, sedangkan liabilitas (kewajiban) ada disisi kanan. Gampangnya, asset adalah segala sesuatu yang memasukkan uang kekantong kita. Sedangkan liabilitas adalah segala sesuatu yang mengeluarkan uang dari kantong kita. Sesederhana itu. Tapi orang seringkali terjebak, keliru membedakan asset dan liabilitas.
Sekarang apakah uang termasuk asset? Bagaimana dengan mobil, rumah, tanah, dan surat berharga? Ternyata Itu semua belum tentu asset loh! Harta belum tentu asset, dan asset belum tentu harta.

Mobil yang kita kendarai bisa disebut asset jika anda menggunakannya sebagai sarana bisnis antar jemput. Rumah yang kita miliki bisa disebut asset jika kita kontrakkan. Uang kita yang ada dibank baru bisa dibilang asset jika diputar dan tidak dibiarkan ngendon sambil berharap mendapatkan riba (bunga ding… hehehehe).
Jika tidak? Maka itu semua liabilitas! Karena kita “dipaksa” mengeluarkan biaya bensin, perawatan, dan risiko jatuhnya nilai uang akibat inflasi (untungnya bank berbaik hati memberi bunga).
Asset bukan hanya harta. Otak kita adalah asset, jika kita gunakan untuk berpikir. Tangan kita asset, jika kita meringankan penderitaan orang lain. Tenaga kita adalah asset, jika bersedia membantu orang lain. Nafas kita, mata kita, telinga kita, hidup kita… adalah asset jika kita mau menggunakannya untuk kebaikan.
Orang kaya selalu berusaha memperbanyak asset. Sedangkan orang miskin selalu berusaha memperbanyak liabilitas, yang mereka anggap asset. Sehingga jika disimpulkan, cara untuk menjadi orang kaya sebenarnya sangat gampang. Tingkatkan asset kita, dan kurangi liabilitas kita.
Penyakit Orang Miskin
Penyakit orang miskin (termasuk saya) yang paling utama adalah kebiasaan berpikir jangka pendek dalam memperlakukan asset. Seneng banget ngejual asset. Karena ya itu tadi, mereka tidak mengerti perbedaan asset dan liabilitas.
Begitu orang tuanya meninggal dan dapat warisan, langsung beli mobil baru. Loh, kan mobil itu termasuk asset yang bisa dijual lagi? Memang, tapi sangat jarang harga mobil second lebih mahal dari yang baru. Kecuali kalau mau dirawat dan dijual 50 tahun lagi sebagai mobil antik.
Beli rumah baru? Apa salah? Toh, harga tanah cenderung terus naik. Memang tidak salah, karena itu uang Anda. Tapi harus diingat rumah yang lebih besar membutuhkan biaya perawatan yang tidak sedikit. Kecuali jika kita mengontrakkannya dan berharap mendapat keuntungan jika dijual nanti. Jika hanya ditempati sendiri, itu berarti sama saja menambah liabilitas kita.
Penyakit Negara miskin juga sama. Sering salah mengelola asset. Dan ketika pengelolaan itu berdampak pada inefisiensi dan deficit anggaran, penyakit mental orang miskinnya kambuh: jual asset!.
Seperti kasus PT Indosat Tbk. yang dijual oleh Asia Mobile Holding Pte.Ltd kepada Qatar Telecom. Asia Mobile adalah anak perusahaan Temasek Holding. Punya orang Singapore. Dia membeli dari pemerintah kita dengan harga diskon. Hanya 5 Trilyun. Setelah 5 tahun, mereka menjualnya kepada orang Arab. Dengan penjualan itu Asia Mobil menangguk untung hingga Rp 16 triliun lebih.
Ini seperti petuah orang terkaya ke-2 di dunia. Warren Buffet: “Takutlah saat yang lain serakah, dan serakahlah saat yang lain takut”. Menurut dia, peluang investasi yang luar biasa muncul ketika perusahaan2 yang sangat baik dikelilingi oleh situasi luar biasa yang menyebabkan harga sahamnya dinilai secara keliru.
Ketika terjadi kejatuhan bursa pada 1973-1974, Warren membeli Washington post senilai 10 juta, sekarang nilainya 1,5 miliar. Sewaktu crash bursa 1987, ia membeli Coca-Cola seharga 1 milar dan sekarang nilainya 8 miliar. Dekade 90-an, Warren tercatat membeli Wells Fargo banking dengan harga 400 dan nilai sekarang sekitar 1,9 milliar.
Apakah salah menjual asset Negara?
Menurut Tony Prasetiantono (dosen yang memberi saya nilai E untuk Ekonomi Pembangunan karena menulis tugas akhir berupa cerpen untuk mata kuliah dia :p), privatisasi BUMN pada dasarnya didorong dua motivasi. Pertama, keinginan menaikkan efisiensi karena buruknya kinerja sebagian BUMN. Dalam wacana teori ekonomi, terkait dengan beberapa teori klasik, seperti:
(1) X-efficiency (Harvey Leibenstein, 1966), di mana BUMN memerlukan insentif di luar kompetisi;
(2) allocative efficiency (dengan pembahas pertama isu natural monopoly oleh John Stuart Mill, 1848), di mana pasar akan mendorong pencapaian efisiensi melalui persaingan; dan
(3) dynamic efficiency (Joseph Schumpeter, 1942), di mana BUMN akan kian efisien jika manajemennya terdorong untuk melakukan inovasi.
Kedua, secara empiris dapat dibuktikan, privatisasi BUMN bisa dimaksudkan untuk membantu anggaran pemerintah dari tekanan defisit. Saat Inggris memulai gelombang privatisasi BUMN di era PM Margaret Thatcher tahun 1979, mereka menggunakan hasil privatisasi BUMN top (British Airways, British Telecom, dan British Gas) untuk mengatasi krisis fiskal atau defisit anggaran (Iekenberry, 1990).
Sebentar lagi, pada 10 November 2010. Krakatau Steel (KS) akan melepas 3,15 miliar unit saham pada harga Rp 800-1.150. Perseroan menargetkan dana yang dihimpun dari IPO sebesar Rp 2,6-3,3 triliun. Padahal PT Krakatau Steel masih sanggup membayarkan dividen kepada negara sebanyak Rp 137,87 miliar dari tahun buku 2008. Setara dengan 30 persen dari laba bersih (detik.com).
Kita takkan berdebat soal valuasi IPO saham KS. Nilai mata kuliah valuasi saya Cuma dapat B, dan saya masih belum dapat menemukan laporan keuangan KS di website perusahaan (hubungi saya jika Anda punya). Saya yakin para underwriter lebih jago melakukan valuasi (penilaian).
Pertanyaan saya, jika setiap mengalami deficit anggaran kita menjual asset, kira-kira akan bertahan sampai kapan? Mengapa tidak dengan melakukan efisiensi anggaran dan memperbaiki pengelolaan BUMN? Mengapa kita begitu bangga menjual asset jangka panjang untuk kepentingan jangka pendek?
Seharusnya kita belajar kepada Mutholib. Seorang tukang becak di Banjarsari, yang setelah menabung 20 tahun, bisa berhaji bersama istrinya, Caskin. Ia mungkin hanya tukang becak. Pendidikannya bukan Ph.D. Pendapatannya boleh pas-pasan. Tapi dia mengerti cara mengelola asset.
karya teman SMP saya: Raden Bagong


Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

SAMPAH

Masalah yang tidak pernah tuntas . .Jun 6, 2007
Bermasalahnya pengelolaan sampah disekitar kita bukan sekedar karena keterbatasan teknologi dan ekonomi semata, melainkan lebih pada adanya masalah budaya; kebiasaan lama, perilaku dan pola pandang kita terhadap sampah yang tidak benar dan harus dirubah. Untuk itu perlu adanya usaha dari kita semua, untuk merubah kebiasaan lama itu, agar kita dapat menyikapi masalah penanganan sampah dengan baik dan benar.

Semoga melalui wadah ini kita bisa berbagi informasi agar dapat merubah kebiasaan lama kita dalam menangani sampah..

  JIKA BUKAN KITA, SIAPA LAGI?
  JIKA BUKAN SEKARANG, KAPAN LAGI?
.
Album FotoSampah dalam kehidupan...Feb 8, 2011
ddd
dThumbnaild
ddd
rasoulallah.net
Foto
ddd
dThumbnaild
ddd
Wadah Makanan.... ?!
Foto, 10 komentar
ddd
dThumbnaild
ddd
LOGO untuk Kampanye Sampah
Foto, 8 komentar


Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Wisatahati Corporation

WISATAHATI didedikasikan untuk orang-orang yang ingin memperbaiki dan mengubah jalan kehidupannya menuju kehidupan yang menyenangkan yang diridhai Tuhan. Dan Wisatahati juga ditujukan bagi orang-orang yang menghendaki kebahagiaan, ketenangan dan kesejahteraan. Hal ini dapat dilihat pada salah satu produk dari wisatahati yang berupa buku wisatahati yang mengandung pencerahan, motivasi, membangun harapan dan optimisme, menumbuhkan semangat dan kepercayaan diri.

Harta tidak akan ada cukupnya, keinginan tidak akan pernah ada habisnya. Jika hanya dua hal ini yang dikejar, ketenangan dan kebahagiaan justru akan menjauh. Ada hati yang bisa bicara, ada ruh yang bisa berkata. Keduanya jangan sampai mati sebelum jasad mati.

Wisatahati lahir dari seorang Yusuf Mansur, sosok muda yang tengah naik daun sebagai trainer dan motivator di dunia manajemen pengembangan diri dan pencerahan spiritual. Ceramahnya diminati oleh banyak pendengarnya dan telah memiliki jamaah setia di sekitar 11 propinsi. Kini ia juga DUTA DOMPET DHUAFA sebagai ustad muda penganjur sedekah

Berawal dari sebuah buku sederhana yang berjudul “Wisatahati: Mencari Tuhan Yang Hilang”, kini tercatat sekitar 30 bukunya yang telah terbit dan selalu menjadi best seller. Selain itu Wisatahati juga memproduksi CD/VCD dan kaset pencerahan dan motivasi.

Yusuf Mansur dan Wisatahatinya kerap melakukan perjalanan ke penjuru tanah air. Menyapa kesulitan, permasalahan, dan keinginan orang banyak yang belum terjawab, untuk kemudian dicari jawaban dan solusinya. Baik persoalan perorangan, maupun perusahaan/lembaga.

Wisatahati berkantor di Bintaro Trade Centre dan beberapa kantor regional di Jatim, Jateng, dan Medan. Kini tengah mengembangkan pemberdayaan di kalangan pemuda yang siap untuk menjadi seorang trainer dengan mendirikan Sekolah Trainer Wisatahati.

Profile Singkat Wisatahati

Adalah Corporasi yang bergerak di bidang konsultasi bisnis dan training. Visinya adalah menata hati menata kehidupan (menjadikan hidup lebih bermakna sesuai dengan Quran dan Sunnah). Misinya adalah dakwah.

Sasaran yang dituju adalah: Korporasi (perusahaan, instansi, dunia pendidikan) dengan Advokasi bisnis (tinjauan dan pandangan dari sisi spiritual) dan Tausiyah Korporasi (motivasi dan pencerahan/empowering & enlighting). Lalu juga Masyarakat dengan Spiritual Gathering (penyebab manusia bersalah), Financial Healing (problem solving, 1001 cara menyelesaikan masalah dan mencapai keinginan), dan Klinik Konsultasi (Consulting Spiritual).

Tujuannya adalah mengajak diri kita dan orang lain untuk mengingat dan melibatkan Allah melalui media Sedekah dan Tahajjud.

Kegiatan WH: Dakwah (Multilevel Tahajjud, MLS), Training Centre (Seminar, Klinik, Spiritual Gathering, Sekolah Trainer), Publishing (Buku, Majalah, dan Penerbit ‘Semestapena’), WH Community (distribusi produk WH berupa buku, CD, dll), WH Media (sponsorship, advertising), Event Organizer, WH Travel, SMS.

Kami juga membina sebuah Pesantren Tahfidz Quran 'Daarul Quran' Wisatahati, Cipondoh dan Pondok II di Kp. Bulak Santri Perum Barata Pd. Pucung-Karang Tengah, Ciledug.

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Remaja Mandiri

MEMPEROLEH kebebasan (mandiri) merupakan suatu tugas bagi remaja. Dengan kemandirian tersebut berarti remaja harus belajar dan berlatih dalam membuat rencana, memilih alternatif, membuat keputusan, bertindak sesuai dengan keputusannya sendiri serta bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dilakukannya. Dengan demikian remaja akan berangsur-angsur melepaskan diri dari ketergantungan pada orangtua atau orang dewasa lainnya dalam banyak hal.
Pendapat ini diperkuat oleh pendapat para ahli perkembangan yang menyatakan, "Berbeda dengan kemandirian pada masa anak-anak yang lebih bersifat motorik, seperti berusaha makan sendiri, mandi dan berpakaian sendiri, pada masa remaja kemandirian tersebut lebih bersifat psikologis, seperti membuat keputusan sendiri dan kebebasan berperilaku sesuai dengan keinginannya".
Dalam pencarian identitas diri, remaja cenderung melepaskan diri sendiri sedikit demi sedikit dari ikatan psikis orangtuanya. Remaja mendambakan untuk diperlakukan dan dihargai sebagai orang dewasa. Hal ini dikemukan Erikson (1992) yang menamakan proses tersebut sebagai "proses mencari identitas ego", atau pencarian diri sendiri. Dalam proses ini remaja ingin mengetahui peranan dan kedudukannya dalam lingkungan, disamping ingin tahu tentang dirinya sendiri.
Kemandirian seorang remaja diperkuat melalui proses sosialisasi yang terjadi antara remaja dan teman sebaya. Hurlock (1991) mengatakan bahwa melalui hubungan dengan teman sebaya, remaja belajar berpikir secara mandiri, mengambil keputusan sendiri, menerima (bahkan dapat juga menolak) pandangan dan nilai yang berasal dari keluarga dan mempelajari pola perilaku yang diterima di dalam kelompoknya. Kelompok teman sebaya merupakan lingkungan sosial pertama dimana remaja belajar untuk hidup bersama dengan orang lain yang bukan anggota keluarganya. Ini dilakukan remaja dengan tujuan untuk mendapatkan pengakuan dan penerimaan kelompok teman sebayanya sehingga tercipta rasa aman. Penerimaan dari kelompok teman sebaya ini merupakan hal yang sangat penting, karena remaja membutuhkan adanya penerimaan dan keyakinan untuk dapat diterima oleh kelompoknya.
Dalam mencapai keinginannya untuk mandiri, seringkali remaja mengalami hambatan-hambatan yang disebabkan masih adanya kebutuhan untuk tetap tergantung pada orang lain. Dalam contoh yang disebutkan diatas, remaja mengalami dilema yang sangat besar antara mengikuti kehendak orangtua atau mengikuti keinginannya sendiri. Jika ia mengikuti kehendak orangtua, maka dari segi ekonomi (biaya sekolah) remaja akan terjamin karena orangtua pasti akan membantu sepenuhnya. Sebaliknya, jika ia tidak mengikuti kemauan orangtua, bisa jadi orangtuanya tidak mau membiayai sekolahnya. Situasi yang demikian ini sering dikenal sebagai keadaan yang ambivalensi dan dalam hal ini akan menimbulkan konflik pada diri sendiri remaja. Konflik ini akan mempengaruhi remaja dalam usahanya untuk mandiri, sehingga sering menimbulkan hambatan dalam penyesuaian diri terhadap lingkungan sekitarnya.
***
Kemandirian pada anak berawal dari keluarga serta dipengaruhi pola asuh orangtua. Dalam keluarga, orangtualah yang berperan dalam mengasuh, membimbing dan membantu mengarahkan anak untuk jadi mandiri. Mengingat masa anak-anak dan remaja merupakan masa yang penting dalam proses perkembangan kemandirian, maka pemahaman dan kesempatan yang diberikan orangtua kepada anak-anaknya dalam meningkatkan kemandirian amatlah krusial. Meski dunia pendidikan (sekolah) juga turut berperan dalam memberikan kesempatan kepada anak untuk mandiri, keluarga tetap merupakan pilar utama dan pertama dalam membentuk anak untuk mandiri.
Bagaimana orangtua harus bertindak dalam menyikapi tuntutan kemandirian seorang remaja, ada beberapa petunjuk sbb.;
* Komunikasi -- Berkomunikasi dengan anak merupakan suatu cara yang paling efektif untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Tentu saja komunikasi disini harus bersifat dua arah, artinya kedua belah pihak harus mau saling mendengarkan pandangan satu dengan yang lain. Dengan melakukan komunikasi, orangtua dapat mengetahui pandangan-pandangan dan kerangka berpikir anaknya, begitu pula sebaliknya. Komunikasi tak berarti harus dilakukan secara formal, tetapi bisa saja dilakukan sambil makan bersama atau selagi berlibur sekeluarga.
* Kesempatan -- Orangtua sebaiknya memberikan kesempatan kepada anak remajanya untuk membuktikan atau melaksanakan keputusan yang telah diambil. Biarkan remaja itu mengusahakan sendiri apa yang diperlukannya dan biarkan juga ia mengatasi sendiri berbagai masalah yang muncul. Orangtua hanya bertindak sebagai pengamat dan hanya boleh melakukan intervensi jika tindakan sang remaja dianggap dapat membahayakan dirinya dan orang lain.
* Tanggungjawab -- Bertanggungjawab terhadap segala tindakan yang diperbuat merupakan kunci untuk menuju kemandirian. Dengan berani bertanggungjawab, remaja akan belajar untuk tidak mengulangi hal-hal yang memberikan dampak-dampak negatif (tidak menyenangkan) bagi dirinya. Dalam banyak kasus, masih banyak orangtua yang tidak menyadari hal ini. Sebagai contoh, dalam kasus remaja yang ditahan oleh pihak berwajib karena terlibat tawuran, tidak jarang dijumpai justru orangtualah yang berjuang keras dengan segala cara untuk membebaskan anaknya dari tahanan, sehingga anak tak pernah memperoleh kesempatan untuk bertanggungjawab atas perilaku yang diperbuatnya. Pada kondisi begitu, remaja tentu saja tidak takut untuk berbuat salah, sebab ia tahu orangtuanya pasti akan menebus kesalahannya.
* Konsistensi -- Konsistensi orangtua dalam menerapkan disiplin dan menanamkan nilai-nilai kepada remaja dan sejak masa kanak-kanak di dalam keluarga akan menjadi panutan bagi remaja untuk dapat mengembangkan kemandirian dan berpikir secara dewasa. Orangtua yang konsisten akan memudahkan remaja dalam membuat rencana hidupnya sendiri dan dapat memilih berbagai alternatif karena segala sesuatu sudah dapat diramalkan olehnya.

Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

Tuntunan Bergaul dengan Penderita HIV AIDS dalam Syariat ISLAM


Sebagai Agama yang ajarannya penuh rahmat bagi penghuni dunia ini (rahmatan li ‘alamin), Islam telah memberikan tuntunan-tuntunan bagi pemeluknya. Ajaran Islam sarat dengan tuntunan untuk menghindari penyakit, sebagaimana juga sarat dengan tuntunan untuk merawat dan memperlakukan orang yang sakit dengan baik. ‘Iyadh al-maridh yang sangat digalakkan oleh Islam sebenarnya tidak hanya berarti menengok orang sakit, sebagaimana yang dipahami selama ini, melainkan juga berarti merawat dan mengobati orang sakit.

Orang yang sakit, apapun sebabnya harus tetap mendapatkan tempat khusus dalam mayarakat Muslim. Dalam sebuah Hadis Qudsi Allah SWT mengatakan :
“Wahai hamba-ku, aku ini ‘sakit’ tetapi kamu tidak mau menjenguk dan merawat-ku. Hamba menjawab, “bagaimana aku dapat menjenguk dan merawat-MU sedangkan Engkau adalah Rabbul ‘Alamin?”. Allah menjawab : “seorang hamba-ku sakit, apabila kamu menjenguk dan merawatnya tentu kamu akan menjumpai-ku di sana”.

Dalam hadis ini Allah SWT. Telah menempatkan kedudukan orang-orang yang sakit seolah-olah Allah Ta’ala sendiri yang sakit. Ini artinya manusia dituntut agar selalu memperhatikan orang-orang yang sakit dengan memberikan bantuan baik moril maupun materiil, sehingga mereka tidak terkucil, khususnya secara moral dari masyarakat. Sementara itu, ajaran Islam juga sarat dengan tuntunan untuk menghindari hal-hal yang membahayakan, apalagi penyakit yang berpotensi untuk menular. Nabi Muhammad SAW menegaskan :

Artinya :

“Tidak boleh membahayakan diri sendiri, dan tidak boleh membahayakan orang lain”

Artinya :

“Bahaya itu harus dihilangkan”

bahkan sekiranya ada dua faktor tarik-menarik antara bahaya (kerugian) dan kepentingan (keuntungan), maka yang diprioritaskan adalah menghilangkan bahaya. Kaidah fiqh menuturkan :

Artinya :

“Menghindari kerusakan-kerusakan itu harus didahulukan dari mencari keuntungan-keuntungan”

karenanya, tanpa harus mengurangi perlakuan baik kepada orang yang sakit, Islam mengajarkan agar kita mewaspadai, dan menghindari kemungkinan penularan penyakit dari orang yang sakit tersebut.

Penyakit HIV/AIDS dimana sekitar 80% – 90% dari penyebabnya adalah berzina, merupakan penyakit yang sangat berbahaya, khususnya bagi orang-orang yang memiliki akhlak yang tidak terpuji28. Penyakit inimerupakan musibah yang dapat menimpa siapa saja termasuk orang-orang yang berakhlakul karimah. Orang yang terkena musibah belum tentu akibat dosa yang diperbuatnya, tetapi boleh jadi merupakan korban perbuatan orang lain.

Apabila sekitar 80% - 90 % dari penyebab HIV/AIDS adalah perbuatan zina, maka upaya untuk menanggulangi HIV/AIDS yang paling efektif adalah menghilangkan penyebabnya itu sendiri yaitu perbuatan zina. Seperti tersebut di atas, Nabi Muhammad SAW. Mengatakan bahwa :

“Apabila zina dan riba sudah menjadi perbuatan umum dalam suatu negeri, maka hal itu berarti penduduk negeri itu telah menghalalkan (mengundang) azab Allah”

karenanya prinsip “menjaga lebih baik daripada mengobati” juga berarti menghilangkan sebab lebih baik daripada mengobati penyakit yang diakibatkan oleh sebab tersebut.

Anjuran Islam untuk memperhatikan dan memperlakukan dengan baik kepada orang-orang yang sakit itu juga termasuk orang-orang yang sakit terkena virus HIV/AIDS. Namun tentunya, jangan sampai perlakuan yang baik itu justru akan mengorbankan orang lain yang tidak terkena HIV/AIDS menjadi terkena HIV/AIDS. Hal ini tidak dibenarkan dalam Islam. Kaidah Fiqh menyebutkan :

Artinya:

“Bahaya itu tidak boleh dihilangkan dengan mendatangkan bahaya yang lain”

karenanya diperlukan upaya-upaya yang sangat bijaksana agar para penderita HIV/AIDS itu dapat dirawat, diobati dan diperlakukan secara manusiawi tetapi tidak mengorbankan pihak lain sehingga menjadi HIV/AIDS yang baru. Kebijaksanaan ini akan lebih diperlukan karena sebagai manusia, penderita HIV/AIDSakan selalu berhubungan dengan orang lain misalnya, ketika menginjak dewasa ia perlu menikah, ketika meninggal dunia perlu mendapat perawatan jenazahnya dan lain sebagainya.


Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO